BAB 1
PENDAHULUAN
A.
Latar
belakang
Penyakit
Jantung Koroner (PJK) ialah penyakit jantung yang terutama disebabkan karena
penyempitan arteri koronaria akibat proses aterosklerosis atau spasme atau
kombinasi keduanya. PJK merupakan sosok penyakit yang sangat menakutkan dan
masih menjadi masalah baik di negara maju maupun negara berkembang. Di USA
setiap tahunnya 550.000 orang meninggal karena penyakit ini. Di Eropa
diperhitungkan 20-40.000 orang dari 1 juta penduduk menderita PJK. Hasil survei
yang dilakukan Departemen Kesehatan RI menyatakan prevalensi PJK di Indonesia
dari tahun ke tahun terus meningkat. Bahkan, sekarang (tahun 2000-an) dapat
dipastikan, kecenderungan penyebab kematian di Indonesia bergeser dari penyakit
infeksi ke penyakit kardiovaskular (antara lain PJK) dan degeneratif.
Tulisan
ini hanya dibatasi pada pemahaman tentang status lipid dan keterkaitannya
dengan PJK sebagai faktor risiko tradisional. Disadari bahwa perkembangan
mutakhir dalam bidang penyakit jantung menemukan berbagai fakta-fakta baru
tentang PJK. Namun, pengendalian faktor-faktor risiko tradisional, terutama
dislipidemia, obesitas, merokok, dan hipertensi masih cukup relevan dalam upaya
menurunkan morbiditas dan mortalias PJK dan bencana kardiovaskular lain.
Berbagai
studi epidemiologik menunjukkan bahwa semakin tinggi kadar lipid dalam darah
maka semakin besar risiko terjadinya PJK. Oleh karena itu kontrol lipid darah,
dan pengendalian kadar lipid darah hingga batas normal akan menekan risiko
terjadinya penyakit jantung koroner.
B.
Rumusan
masalah
- Bagaimana konsep management lipid pada PJK?
- Bagaimana konsep proses keperawatan management lipid pada PJK?
C.
Tujuan
1.
Tujuan
umum
Menjelaskan konsep dan proses
keperawatan management lipid pada PJK.
2.
Tujuan
khusus
a. Mengetahui definisi PJK dan lipid
b. Mengetahui kelainan-kelainan pada
lipid
c. Mengetahui etiologi PJK
d. Mengetahui patofisiologi lipid pada
PJK
e. Mengetahui manifestasi klinis PJK
f. Mengetahui pemeriksaan diagnostik
PJK
g. Mengetahui komplikasi lipid pada PJK
h. Mengetahui penatalaksanaan lipid
pada PJK
i.
Mengetahui
prognosis PJK
j.
Mengetahui
asuhan keperawatan pada PJK
D. Manfaat
Dapat mengetahui tentang
Proses Asuhan Keperawatan
Penyakit Jantung Koroner
BAB 2
PEMBAHASAN
A.
Konsep
Teori
1. Definisi
Penyakit Jantung Koroner (PJK) adalah
keadaaan dimana terjadi ketidakseimbangan antara kebutuhan otot jantung atas
oksigen dengan penyediaan yang di berikan oleh pembuluh darah coroner (Mila,
2010).
Lemak, disebut juga lipid, adalah
suatu zat yang kaya akan energi, berfungsi sebagai sumber energi yang utama
untuk proses metabolisme tubuh. Lemak yang beredar di dalam tubuh diperoleh
dari dua sumber yaitu dari makanan dan hasil produksi organ hati, yang bisa
disimpan di dalam sel-sel lemak sebagai cadangan energi.
Fungsi lemak adalah sebagai sumber
energi, pelindung organ tubuh, pembentukan sel, sumber asam lemak esensial,
alat angkut vitamin larut lemak, menghemat protein, memberi rasa kenyang dan
kelezatan, sebagai pelumas, dan memelihara suhu tubuh. (Danny, 2009).
Secara ilmu gizi, lemak dapat diklasifikasikan sebagai
berikut :
1. Lipid sederhana :
• Lemak netral (monogliserida,
digliserida, trigliserida),
• Ester asam lemak dengan alkohol
berberat molekul tinggi
2. Lipid majemuk :
• Fosfolipid
• Lipoprotein
3. Lipid turunan :
• Asam lemak
• Sterol (kolesterol, ergosterol,dsb)
Secara klinis, lemak yang penting adalah :
• Kolesterol
Kolesterol merupakan bahan perantara
untuk pembentukan sejumlah komponen penting seperti vitamin D (untuk
membentuk & mempertahankan tulang yang sehat), hormon seks
(contohnya Estrogen & Testosteron) dan asam empedu (untuk fungsi
pencernaan ).
• Trigliserida (lemak netral)
Sebagian besar lemak dan minyak di
alam terdiri atas 98-99% trigliserida. Trigliserida adalah suatu ester
gliserol. Trigliserida terbentuk dari 3 asam lemak dan gliserol. Apabila
terdapat satu asam lemak dalam ikatan dengan gliserol maka dinamakan
monogliserida. Fungsi utama Trigliserida adalah sebagai zat energi. Lemak
disimpan di dalam tubuh dalam bentuk trigliserida. Apabila sel membutuhkan
energi, enzim lipase dalam sel lemak akan memecah trigliserida menjadi gliserol
dan asam lemak serta melepasnya ke dalam pembuluh darah. Oleh sel-sel yang
membutuhkan komponen-komponen tersebut kemudian dibakar dan menghasilkan
energi, karbondioksida (CO2), dan air (H2O). Trigliserida
bersirkulasi dalam darah bersama-sama dengan VLDL (Very Low Densitiy
Lipoprotein) yang bersifat aterogenik. Trigliserida serum juga berhubungan
positif dengan risiko PJK.
• Fosfolipid
Fungsi dari fosfolipid antara lain
sebagai bahan penyusun membran sel. Beberapa fungsi biologik lainnya
antara lain adalah sebagai surfactant paru-paru yg mencegah
perlekatan dinding alveoli paru-paru sewaktu ekspirasi.
• Asam Lemak
Asam lemak memiliki empat peranan
utama. Pertama, asam lemak merupakan unit penyusun fosfolipid dan glikolipid. Kedua,
banyak protein dimodifikasi oleh ikatan kovalen asam lemak, yang menempatkan
protein-protein tersebut ke lokasi-lokasinya pada membran. Ketiga, asam lemak
merupakan molekul bahan bakar. Asam lemak disimpan dalam bentuk
triasilgliserol, yang merupakan ester gliserol yang tidak bermuatan.
Triasilgliserol disebut juga lemak netral atau trigliserida. Keempat, derivat
asam lemak berperan sebagai hormon dan cakra intrasel.
Lipid Plasma
Pada umumnya lemak tidak larut dalam
air, yang berarti juga tidak larut dalam plasma darah. Agar lemak dapat
diangkut ke dalam peredaran darah, maka lemak tersebut harus dibuat larut
dengan cara mengikatkannya pada protein yang larut dalam air. Ikatan antara
lemak (kolesterol, trigliserida, dan fosfolipid) dengan protein ini disebut Lipoprotein
(dari kata Lipo=lemak, dan protein).
Lipoprotein bertugas mengangkut
lemak dari tempat pembentukannya menuju tempat penggunaannya. Ada beberapa
jenis lipoprotein, antara lain:
1. Kilomikron
Merupakan lipoprotein densitas rendah paling banyak berisi
trigliserid yang berasal dari makanan. Kilomikron berfungsi sebagai alat
transportasi trigliserid dari usus ke jaringan lain, kecuali ginjal.
2. VLDL (Very Low Density
Lipoprotein)
Merupakan zat yang berfungsi untuk membawa kolesterol yang
telah dikeluarkan oleh hati ke jaringan otot untuk disimpan sebagai cadangan
energi.
3. IDL (Intermediate Density
Lipoprotein)
4. LDL (Low Density Lipoprotein)
Low Density Lipoprotein (LDL) adalah lipoprotein utama
pengangkut kolesterol dalam darah yang terlibat dalam proses terjadinya PJK.
Semakin tinggi kadar kolesterol-LDL dalam darah menjadi petanda semakin
tingginya risiko PJK, karena itu kolesterol-LDL biasa juga disebut 'kolesterol
jahat'.
5. HDL (High Density Lipoprotein)
High Density Lipoprotein (HDL) merupakan lipoprotein yang
bersifat menurunkan faktor risiko pembentukan aterosklerosis. Kolesterol-HDL
beredar dalam darah dan kembali ke hepar mengalami katabolisme membentuk empedu
serta dieliminasi
Jalur pengangkutan lemak dalam darah
:
Lemak dalam darah diangkut dengan dua cara, yaitu melalui jalur
eksogen dan jalur endogen
1.
Jalur
Eksogen
Trigliserida & kolesterol yang
berasal dari makanan dalam usus dikemas dalam bentuk partikel besar
lipoprotein, yang disebut Kilomikron. Kilomikron ini akan membawanya ke
dalam aliran darah. Kemudian trigliserid dalam kilomikron tadi mengalami
penguraian oleh enzim lipoprotein lipase, sehingga terbentuk asam
lemak bebas dan kilomikron remnan. Asam lemak bebas akan menembus
jaringan lemak atau sel otot untuk diubah menjadi trigliserida kembali sebagai
cadangan energi. Sedangkan kilomikron remnan akan dimetabolisme dalam hati
sehingga menghasilkan kolesterol bebas.
Sebagian kolesterol yang mencapai
organ hati diubah menjadi asam empedu, yang akan dikeluarkan ke dalam
usus, berfungsi seperti detergen & membantu proses penyerapan lemak dari
makanan. Sebagian lagi dari kolesterol dikeluarkan melalui saluran empedu tanpa
dimetabolisme menjadi asam empedu kemudian organ hati akan mendistribusikan
kolesterol ke jaringan tubuh lainnya melalui jalur endogen. Pada akhirnya,
kilomikron yang tersisa (yang lemaknya telah diambil), dibuang dari aliran
darah oleh hati.
Kolesterol juga dapat diproduksi
oleh hati dengan bantuan enzim yang disebut HMG Koenzim-A Reduktase,
kemudian dikirimkan ke dalam aliran darah.
2.
Jalur
Endogen
Pembentukan trigliserida dalam hati
akan meningkat apabila makanan sehari-hari mengandung karbohidrat yang
berlebihan.
Hati mengubah karbohidrat
menjadi asam lemak, kemudian membentuk trigliserida, trigliserida
ini dibawa melalui aliran darah dalam bentuk Very Low Density Lipoprotein
(VLDL). VLDL kemudian akan dimetabolisme oleh enzim lipoprotein lipase
menjadi IDL (Intermediate Density Lipoprotein). Kemudian IDL melalui
serangkaian proses akan berubah menjadi LDL (Low Density Lipoprotein)
yang kaya akan kolesterol. Kira-kira ¾ dari kolesterol total dalam
plasma normal manusia mengandung partikel LDL. LDL ini bertugas menghantarkan
kolesterol ke dalam tubuh.
Kolesterol yang tidak diperlukan
akan dilepaskan ke dalam darah, dimana pertama-tama akan berikatan dengan HDL
(High Density Lipoprotein). HDL bertugas membuang kelebihan kolesterol dari
dalam tubuh.
Itulah sebab munculnya istilah
LDL-Kolesterol disebut lemak “jahat” dan HDL-Kolesterol disebut lemak “baik”.
Sehingga rasio keduanya harus seimbang.
Kilomikron membawa lemak dari usus
(berasal dari makanan) dan mengirim trigliserid ke sel-sel tubuh. VLDL membawa
lemak dari hati dan mengirim trigliserid ke sel-sel tubuh. LDL yang berasal
dari pemecahan IDL (sebelumnya berbentuk VLDL) merupakan pengirim kolesterol
yang utama ke sel-sel tubuh. HDL membawa kelebihan kolesterol dari dalam sel
untuk dibuang. (Sumber: Nutrition: Science and Applications, 2nd edition,
edited by L. A. Smaolin & M. B. Grosvenor. Saunders College Publishing,
1997.)
Penyakit Arteri Koroner / penyakit
jantung koroner (Coronary Artery Disease) ditandai dengan adanya endapan
lemak yang berkumpul di dalam sel yang melapisi dinding suatu arteri koroner
dan menyumbat aliran darah.
Endapan lemak (ateroma atau plak)
terbentuk secara bertahap dan tersebar di percabangan besar dari kedua arteri
koroner utama, yang mengelilingi jantung dan menyediakan darah bagi jantung.
Proses pembentukan ateroma ini
disebut aterosklerosis.
Ateroma bisa menonjol ke dalam
arteri dan menyebabkan arteri menjadi sempit. Jika ateroma terus membesar,
bagian dari ateroma bisa pecah dan masuk ke dalam aliran darah atau bisa
terbentuk bekuan darah di permukaan ateroma tersebut.
Supaya bisa berkontraksi dan memompa
secara normal, otot jantung (miokardium) memerlukan pasokan darah yang
kaya akan oksigen dari arteri koroner. Jika penyumbatan arteri koroner semakin
memburuk, bisa terjadi iskemi (berkurangnya pasokan darah) pada otot
jantung, menyebabkan kerusakan jantung.
Kelainan Lipid
Dilakukan pemeriksaan darah untuk
mengukur kadar kolesterol total. Untuk mengukur kadar kolesterol LDL, HDL dan
trigliserida, sebaiknya penderita berpuasa dulu minimal selama 12 jam.
Kadar Lemak Darah :
Pemeriksaan Laboratorium
|
Kisaran yang Ideal (mg/dL darah)
|
Kolesterol total
|
120-200
|
Kilomikron
|
negatif (setelah berpuasa selama 12 jam)
|
VLDL
|
1-30
|
LDL
|
60-160
|
HDL
|
35-65
|
Perbandingan LDL dengan HDL
|
< 3,5
|
Trigliserida
|
10-160
|
Berbagai pedoman telah dibuat untuk
menilai hasil tes lipid darah. Oleh The National Cholesterol Education
Program, Adult Treatment Panel III 2001 menetapkan klasifikasi kolesterol
dan trigliserida, yang merupakan pedoman untuk interpretasi klinik hasil tes
lipid darah sebagai berikut :
1. Total Kolesterol
- Kurang dari 200 mg/dl, dikategorikan level kolesterol yang diinginkan.
- Antara 200 - 239 mg/dl, dikategorikan garis batas level kolesterol tinggi
- Lebih besar atau sama dengan 240 mg/dl, diketegorikan level kolesterol tinggi.
2. Kolesterol-LDL
a. Kurang dari 100 mg/dl, dikategorikan
level Kolesterol-LDL optimal
b. Antara 100 - 129 mg/dl,
dikategorikan level Kolesterol LDL mendekati optimal
c. Antara 130 - 159 mg/dl,
dikategorikan garis batas level kolesterol-LDL tinggi
d. Antara 160 - 189 mg/dl,
dikategorikan level kolesterol-LDL tinggi
e. Lebih besar atau sama dengan 190
mg/dl, dikategorikan level kolesterol sangat tinggi.
3. Kolesterol-HDL
a. Kurang dari 40 mg/dl, dikategorikan
level kolesterol HDL rendah
b. Lebih besar atau sama dengan 60
mg/dl, dikategorikan level kolesterol tinggi.
4. Trigliserida
a. Kurang dari 150 mg/dl, dikategorikan
level trigliserida normal
b. Antara 150 - 199 mg/dl,
dikategorikan level trigliserida garis batas level trigliserida tinggi
c. Antara 200 - 499 mg/dl,
dikategorikan level trigliserida tinggi
d. Lebih besar atau sama dengan 500
mg/dl, diketegorikan level trigliserida sangat tinggi.
Hiperlipidemia
Yang dimakud dengan Hiperlipidemia
adalah suatu keadaan yang ditandai oleh peningkatan kadar lipid/lemak darah. Berdasarkan
jenisnya, hiperlipidemia dibagi menjadi 2, yaitu:
1. Hiperlipidemia Primer
Banyak disebabkan oleh karena kelainan genetik. Biasanya
kelainan ini ditemukan pada waktu pemeriksaan laboratorium secara kebetulan.
Pada umumnya tidak ada keluhan, kecuali pada keadaan yang agak berat tampak
adanya xantoma (penumpukan lemak di bawah jaringan kulit).
Berdasarkan fenotip lipoproteinnya hiperlipidemia primer
dibedakan berdasarkan 6 tipe (Fredrickson, 1967).
Klasifikasi hiperlipoproteinememia menurut Fredickson :
Sinonim
|
Fraksi lipoprotein utama yang
meningkat
|
Lipid utama yang meningkat
|
|
I
IIA
IIB
III
IV
V
|
Hiperkilomkronemia
Hiperbetalipoprotenemia
Hiper-β
& pra-β-LPP lipoproteinemia
Hiper
broad band LPPemia
Hoperpralipoprooteinemia
Hoperkilomikron
dan Hiperprabetalipoproteinemia
|
Kilomikron
LDL
LDL dan VLDL
IDL
VLDL
VLDL dan kilomikron
|
Trigliserid
Kolesterol
Kolesterol dan trigliserid
Trigliserid dan Kolesterol
Trigliserid
Trigliserid dan kilomikron
|
2. Hiperlipidemia Sekunder
Pada jenis ini, peningkatan kadar
lipid darah disebabkan oleh suatu penyakit tertentu, misalnya : diabetes
melitus, gangguan tiroid, penyakit hepar & penyakit ginjal. Hiperlipidemia
sekunder bersifat reversibel (berulang).
Ada juga obat-obatan yang
menyebabkan gangguan metabolisme lemak, seperti:
1. Beta-bloker : hiperlipoproteinememia
tipe IIa dan IIb
2. Diuretik : hiperlipoproteinememia
tipe IIb dan IV
3. Esterogen : hiperlipoproteinememia
tipe IV
4. Gestagen : hiperlipoproteinememia
tipe IIb
Klasifikasi Klinis Hiperlipidemia (dalam hubungannya dengan Penyakit
Jantung Koroner)
1. Hiperkolesterolemia yaitu : kadar kolesterol meningkat
dalam darah .
2. Hipertrigliseridemia yaitu : kadar trigliserida
meningkat dalam darah.
3. Hiperlipidemia campuran yaitu : kadar kolesterol dan
trigliserida meningkat dalam darah.
2. Etiologi
Penyakit jantung coroner dapat
disebabkan oleh beberapa hal :
a. Penyempitan (stenosis) dan penciutan
(spasme) arteri koronaria, tetapi penyempitan bertahap akan memungkinkan
berkembangnya kolateral yang cukup sebagai pengganti.
b. Aterosklerosis, menyebabkan sekitar
98% kasus PJK.
c. Penyempitan arteri koronaria pada
sifilis, aortitis takayasu, berbagai jenis arteritis yang mengenai arteri
coronaria, dll.
Faktor Resiko
Faktor resiko ada yang dapat dimodifikasi ada yang tidak
dapat dimodifikasi
1.
Faktor
risiko yang dapat dimodifikasi :
- Merokok
Merokok dapat merangsang proses aterosklerosis karena efek
langsung pada dinding arteri, karbon monoksida menyebabkan hipoksia arteri,
nikotin menyebabkan mobilisasi katekolamin yang menimbulkan reaksitrombosit,
glikoprotein tembakau dapat menimbulkan reaksi hipersensitifitas dinding
arteri.
- Hiperlipoproteinemia
DM, obesitas dan hiperlipoproteinemia behubungan dengan
pengendapan lemak.
- Hiperkolesterolemia
Kolesterol, lemak dan substansi lainnya dapat menyebabkan
penebalan dinding pembuluh darah arteri, sehingga lumen dari pembuluh darah
tersebut menyempit dan proses ini disebut aterosklerosis.
- Hipertensi
Peningkatan tekanan darah merupakan beban yang berat untuk
jantung, sehingga menyebabkan hipertropi ventrikel kiri atau pembesaran
ventrikel kiri (faktormiokard). Serta tekanan darah yang tinggi menimbulkan
trauma langsung terhadap dinding pembuluh darah arteri koronaria, sehingga
memudahkan terjadinya aterosklerosis koroner (factor koroner).
- Diabetes mellitus
Intoleransi terhadap glukosa sejak dulu telah diketahui
sebagai predisposisi penyakit pembuluh darah.
- Obesitas dan sindrom metabolic
Obesitas adalah kelebihan jumlah lemak tubuh > 19 % pada
laki laki dan > 21 % pada perempuan. Obesitas juga dapat meningkatkan kadar
kolesterol dan LDL kolesterol. Resiko PJK akan jelas meningkat bila BB mulai
melebihi 20% dari BB ideal.
- Inaktifitas fisik
- Perubahan keadaan sosial dan stress
Penelitian Supargo dkk (1981-1985) di FKUI menunjukkan orang
yang stress satu setengah kali lebih besar mendapatkan resiko PJK. Stress
disamping dapat menaikkan tekanan darah juga dapat meningkatkan kadar
kolesterol darah.
- Kelenjar tiroid yang kurang aktif
Hipotiroid / hiposekresi terjadi bila kelenjar tiroid kurang
mengeluarkan sekret pada waktu bayi, sehingga menyebabkan kretinisme atau
terhambatnya pertumbuhan tubuh.
Pada orang dewasa mengakibatkan mixodema, proses
metabolik mundur dan terdapat kecenderungan untuk bertambah berat dan gerakan
lamban.
- Obat-obatan tertentu yang dapat mengganggu metabolisme lemak seperti estrogen, pil kb, kortikosteroid, diuretik tiazid (pada keadaan tertentu)
2.
Faktor
risiko yang tidak dapat dimodifikasi :
a. Usia
Resiko PJK meningkat dengan
bertambahnya usia; penyakit yang serius jarang terjadi sebelum usia 40 tahun.
Tetapi hubungan antara usia dan timbulnya penyakit mungkin hanya mencerminkan
lebih panjangnya lama paparan terhadap faktor-faktor pemicu.
b. Jenis kelamin laki-laki
Wanita agaknya relative kebal
terhadap penyakit ini sampai menopause, kemudian menjadi sama rentannya seperti
pria; diduga karena adanya efek perlindungan esterogen.
c. Riwayat keluarga
Riwayat keluarga yang positif
terhadap PJK (saudara atau orang tua yang menderita penyakit ini sebelum usia
50 tahun) meningkatkan timbulnya aterosklerosis prematur. Pentingnya pengaruh
genetic dan lingkungan masih belum diketahui. Tetapi, riwayat keluarga dapat
juga mencerminkan komponen lingkungan yang kuat, seperti misalnya gaya hidup
yang menimbulkan stress atau obesitas.
d. Etnis
Orang Amerika-Afrika lebih rentan terhadap
PJK daripada orang kulit putih.
3.
Patofisiologi
Bila terlalu banyak mengkonsumsi
makanan yang mengandung kolesterol, maka kadar kolesterol dalam darah bisa
berlebih (disebut hiperkolesterolemia). Kelebihan kadar kolesterol dalam darah
akan disimpan di dalam lapisan dinding pembuluh darah arteri, yang
disebut sebagai plak atau ateroma (sumber utama plak berasal dari
LDL-Kolesterol. Sedangkan HDL membawa kembali kelebihan kolesterol ke dalam
hati, sehingga mengurangi penumpukan kolesterol di dalam dinding pembuluh
darah). Ateroma berisi bahan lembut seperti keju, mengandung sejumlah bahan
lemak, terutama kolesterol, sel-sel otot polos dan sel-sel jaringan
ikat.
Apabila makin lama plak yang
terbentuk makin banyak, akan terjadi suatu penebalan pada dinding pembuluh
darah arteri, sehingga terjadi penyempitan pembuluh darah arteri. Kejadian ini
disebut sebagai aterosklerosis (terdapatnya aterom pada dinding arteri,
berisi kolesterol dan zat lemak lainnya). Hal ini menyebabkan terjadinya arteriosklerosis
(penebalan pada dinding arteri & hilangnya kelenturan dinding arteri). Bila
ateroma yang terbentuk semakin tebal, dapat merobek lapisan dinding arteri dan
terjadi bekuan darah (trombus) yang dapat menyumbat aliran darah dalam
arteri tersebut.
Hal ini yang dapat menyebabkan
berkurangnya aliran darah serta suplai zat-zat penting seperti oksigen ke
daerah atau organ tertentu seperti jantung. Bila mengenai arteri koronaria
yang berfungsi mensuplai darah ke otot jantung (istilah medisnya miokardium),
maka suplai darah jadi berkurang dan menyebabkan kematian di daerah tersebut
(disebut sebagai infark miokard).
Konsekuensinya adalah terjadinya
serangan jantung dan menyebabkan timbulnya gejala berupa nyeri dada yang hebat
(dikenal sebagai angina pectoris). Keadaan ini yang disebut sebagai Penyakit
Jantung Koroner (PJK)
Manifestasi klinis
Gejala PJK :
a. Beberapa hari atau minggu sebelumnya
tubuh terasa tidak bertenaga, dada tidak enak, waktu olahraga atau bergerak
jantung berdenyut keras, napas tersengal-sengal, kadwoooang-kadang disertai
mual, muntah dan tubuh mengeluarkan banyak keringat.
b.
Nyeri dada
Sakit
dada kiri (angina) dan nyeri terasa berasal dari dalam. Nyeri dada yang
dirasakan pasien juga bermacam-macam seperti ditusuk-tusuk, terbakar, tertimpa
benda berat, disayat, panas. Nyeri dada dirasakan di dada kiri disertai
penjalaran ke lengan kiri, nyeri di ulu hati, dada kanan, nyeri dada yang
menembus hingga punggung, bahkan ke rahang dan leher.
c. Jantung berdebar (denyut nadi
cepat).
d. Keringat dingin
e. Tenaga dan pikiran menjadi lemah,
ketakutan yang tidak ada alasannya, perasaan mau mati saja.
f. Tekanan darah rendah atau stroke
g. Dalam kondisi sakit :
Sakit nyeri terutama di dada sebelah kiri tulang bagian atas
dan tengah sampai ke telapak tangan. Terjadinya sewaktu dalam
keadaan tenang
h. Kadar trigliserida yang sangat
tinggi (sampai 800 mg/dl atau lebih) bisa menyebabkan pembesaran hati dan limpa
dan gejala-gejala dari pankreatitis (misalnya nyeri perut yang hebat).
TandaPJK :
a. Biasanya kadar lemak yang tinggi
tidak menimbulkan gejala. Kadang-kadang, jika kadarnya sangat tinggi, endapan
lemak akan membentuk suatu penumpukan lemak yang disebut xantoma di dalam tendo
(urat daging) dan di dalam kulit.
b. Demam, suhu tubuh umumnya sekitar
38°C
c. Mual-mual dan muntah, perut bagian
atas kembung dan sakit
d. Muka pucat pasi
e. Kulit menjadi basah dan dingin badan
bersimbah peluh
f. Gerakan menjadi lamban (kurang
semangat)
g. Sesak nafas
h. Cemas dan gelisah
i.
Pingsan
4.
Pemeriksaan
diagnostik
Tergantung kebutuhannya beragam
jenis pemeriksaan dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosis PJK dan menentukan
derajatnya. Dari yang sederhana sampai yang invasive sifatnya.
a. Elektrokardiogram (EKG)
Pemeriksaan aktifitas listrik jantung atau gambaran
elektrokardiogram (EKG) adalah pemeriksaan penunjang untuk memberi petunjuk
adanya PJK. Dengan pemeriksaan ini kita dapat mengetahui apakah sudah ada
tanda-tandanya. Dapat berupa serangan jantung terdahulu, penyempitan atau
serangan jantung yang baru terjadi, yang masing-masing memberikan gambaran yang
berbeda.
b. Foto Rontgen Dada
Dari foto rontgen, dokter dapat menilai ukuran jantung,
ada-tidaknya pembesaran. Di samping itu dapat juga dilihat gambaran paru.
Kelainan pada koroner tidak dapat dilihat dalam foto rontgen ini. Dari ukuran
jantung dapat dinilai apakah seorang penderita sudah berada pada PJK lanjut.
Mungkin saja PJK lama yang sudah berlanjut pada payah jantung. Gambarannya
biasanya jantung terlihat membesar.
c. Pemeriksaan Laboratorium
Dilakukan untuk mengetahui kadar trigliserida sebagai faktor
resiko. Dari pemeriksaan darah juga diketahui ada-tidaknya serangan jantung
akut dengan melihat kenaikan enzim jantung.
d. Bila dari semua pemeriksaan diatas
diagnosa PJK belum berhasil ditegakkan, biasanya dokter jantung/ kardiologis
akan merekomendasikan untuk dilakukan treadmill.
Alat ini digunakan untuk pemeriksaan diagnostic PJK. Berupa
ban berjalan serupa dengan alat olah raga umumnya, namun dihubungkan dengan
monitor dan alat rekam EKG. Prinsipnya adalah merekam aktifitas fisik jantung
saat latihan. Dapat terjadi berupa gambaran EKG saat aktifitas, yang memberi
petunjuk adanya PJK. Hal ini disebabkan karena jantung mempunyai tenaga serap,
sehingga pada keadaan sehingga pada keadaan tertentu dalam keadaan istirahat
gambaran EKG tampak normal.
Dari hasil treadmill ini telah dapat diduga apakah seseorang
menderita PJK. Memang tidak 100% karena pemeriksaan dengan treadmill ini
sensitifitasnya hanya sekitar 84% pada pria sedangka untuk wanita hanya 72%.
Berarti masih mungkin ramalan ini meleset sekitar 16%, artinya dari 100 orang
pria penderita PJK yang terbukti benar hanya 84 orang. Biasanya perlu
pemeriksaan lanjut dengan melakukan kateterisasi jantung.
e. Kateterisasi Jantung
Pemeriksaan ini dilakukan dengan memasukkan kateter semacam
selang seukuran ujung lidi. Selang ini dimasukkan langsung ke pembuluh nadi
(arteri). Bisa melalui pangkal paha, lipatan lengan atau melalui pembuluh darah
di lengan bawah. Kateter didorong dengan tuntunan alat rontgen langsung ke
muara pembuluh koroner. Setelah tepat di lubangnya, kemudian disuntikkan cairan
kontras sehingga mengisi pembuluh koroner yang dimaksud. Setelah itu dapat
dilihat adanya penyempitan atau malahan mungkin tidak ada penyumbatan.
Penyempitan atau penyumbatan ini dapat saja mengenai beberapa tempat pada satu
pembuluh koroner. Bisa juga sekaligus mengenai beberapa pembuluh koroner. Atas
dasar hasil kateterisasi jantung ini akan dapat ditentukan penanganan lebih
lanjut. Apakah apsien cukup hanya dengan obat saja, disamping mencegah atau
mengendalikan bourgeois resiko. Atau mungkin memerlukan intervensi yang dikenal
dengan balon. Banyak juga yang menyebut dengan istilah ditiup atau balonisasi.
Saat ini disamping dibalon dapat pula dipasang stent, semacam penyangga seperti
cincin atau gorng-gorong yang berguna untuk mencegah kembalinya penyempitan.
Bila tidak mungkin dengan obat-obatan, dibalon dengan atau tanpa stent, upaya
lain adalah dengan melakukan bedah pintas koroner. (Carko, 2009)
5.
Penatalaksanaan
Biasanya pengobatan terbaik untuk
orang-orang yang memiliki kadar kolesterol tinggi menurut UPT – Balai Informasi
Tekhnologi LIPI adalah :
a. Menurunkan berat badan jika mereka
mengalami kelebihan berat badan.
Karena kolesterol dan lemak jenuh makanan telah terbukti
menaikkan kolesterol-LDL, maka masukan zat gizi ini harus dikurangi. Kalori
berlebihan menaikkan LDL dan trigliserida-VLDL, serta menurunkan HDL, yang
membuat pengaturan berat badan menjadi penting.
b. Berhenti merokok, sebab rokok dapat
menurunkan kadar HDL.
c. Mengurangi jumlah lemak dan
kolesterol dalam makanannya. Diet rendah kolesterol dan rendah lemak jenuh akan
mengurangi kadar LDL.
d. Menambah porsi olah raga. Olah raga
bisa membantu mengurangi kadar LDL-kolesterol dan menambah kadar
HDL-kolesterol.
e. Mengkonsumsi obat penurun kadar
lemak (jika diperlukan).
f. Wanita yang menggunakan kontrasepsi
oral biasanya menderita peningkatan trigliserida yang bisa mempengaruhi HDL,
yang tergantung atas komposisi estrogen-progesteron pil. Kontrasepsi oral
dengan ldominan progestin bisa menurunkan HDL.
g. Saat ini penggunaan obat-obat
antioksidan menjadi babak baru dalam upaya pengendalian faktor-faktor risiko
PJK, dimana obat-obat tersebut relatif lebih murah. Santoso (1998) mengemukakan
bahwa perubahan oksidatif LDL dapat dihambat dengan memberi antioksidan,
misalnya vitamin yang larut dalam lemak (vitamin A, vitamin E dan
beta-karoten), vitamin C dan probukal. Beberapa penelitian telah membuktikan
manfaat vitamin E bila dipakai dengan tujuan pencegahan primer, yaitu
menghambat terjadinya PJK pada pria, wanita, dan orang tua.
Obat-obatan kimia yang digunakan
untuk zmenurunkan kadar lemak dalam darah:
1. Penyerap asam empedu
Cara kerja :
Obat golongan resin ini bekerja dengan cara mengikat asam
empedu di usus halus dan mengeluarkannya melalui tinja sehingga sirkulasi
enterohepatik obat ini menurun. Akibatnya, terjadi peningkatan fungsi reseptor
LDL dan peningkatan bersihan LDL plasma. Obat golongan ini terutama berpengaruh
pada kadar kolesterol LDL dan sedikit/tidak ada pengaruhnya pada kadar TG dan
kolesterol HDL. Pemakaian obat ini pada pasien hipertrigliseridemia berat
(>500 mg/dl) bahkan akan lebih meningkatkan pada TG.
Contoh : colestyramine,
colestipol
Kolestiramin adalah suatu amonium kuarterner
penukar resin yang dalam bentuk garam, menukar klorida untuk anion lain. 1 gram
kolestiramin dapat mengikat sekitar 100 mg garam empedu. Penggunaan kolestiramin
jangka panjang telah terbukti dapat menurunkan serangan jantung fatal sekitar
20%.
Efek samping :
Gangguan pencernaan (mual, muntah, sembelit), urtikaria,
dermatitis, nyeri otot dan sendi, arthritis, sakit kepala, pusing, gelisah,
vertigo, mengantuk, penurunan nafsu makan, lemas, nafas pendek.
2. Penghambat sintesa lipoprotein
Cara kerja : Menurunkan produksi VLDL yang
merupakan prekursor LDL
Contoh : niasin
Asam nikotinat (nicotinic acid) atau Niasin / vitamin B3
yang larut air. Dengan dosis besar asam nikotinat diindikasikan untuk
meningkatkan HDL atau koleserol baik dalam darah untuk mencegah serangan
jantung.
Efek samping :
Gatal dan kemerahan pada kulit terutama daerah wajah dan
tengkuk, gangguan fungsi hati, gangguan saluran pencernaan (muntah, diare,
tukak lambung), pandangan kabur, hiperusisemia, hiperglikemia.
3. Penghambat HMG Koenzim-A reduktase
(golongan statin)
Cara kerja :
a. Menghambat pembentukan kolesterol di
hati
b. Meningkatkan pembuangan LDL dari
aliran darah
Contoh : fluvastatin,
lovastatin, pravastatin, simvastatin
Lovastatin adalah suatu inhibitor kompetitif enzim HMG KoA
reduktase yang merupakan suatu enzim yang mengontrol kecepatan biosintesis
kolesterol. Golongan obat ini lebih sering disebut sebagai statin atau
vastatin.
Lovastatin dimanfaatkan untuk pengobatan
hiperklolesterolemia yang disebabkan oleh peningkatan LDL.
Efek samping :
Gangguan saluran pencernaan, sakit kepala, ‘rash’
(kemerahan), nyeri otot.
4. Derivat asam fibrat
Cara kerja :
Golongan asam fibrat diindikasikan untuk
hiperlipoproteinemia tipe IIa, Iib, III, IV dan V. Gemfibrozil sangat efektif
dalam menurunkan trigliserid plasma, sehingga produksi VLDL dan apoprotein B
dalam hati menurun . Gemfibrozil meningkatkan aktivitas lipoprotein lipase
sehingga bersihan partikel kaya trigliserid meningkat. Kadar kolesterol HDL
juga meningkat pada pemberian Gemfibrozil. Fibrate menurunkan produksi LDl dan
meningkatkan kadar HDL. LDL ditumpuk di arteri sehingga meningkatkan resiko
penyakit jantung, sedangkan HDL memproteksi arteri atas penumpukkan itu.
Penghambatan saluran darah mengurangi jumlah darah sehingga oksigen yang dibawa
ke otot jantung juga berkurang. Pada keadaan yang parah dapat menimbulkan
serangan jantung.
Contoh : klofibrat, fenofibrat,
gemfibrosil
Efek samping:
Gangguan saluran pencernaan (mual, mencret, perut kembung,
dll), ruam kulit, kebotakan, impotensi, lekopenia, anemia, berat badan
bertambah, gangguan irama jantung, radang otot.
5. Ezetimibe
Ezetimibe dapat menurunkan total kolesterol dan LDL juga
meningkatkan HDL. Ezetimibe bekerja dengan cara mengurangi penyerapan
kolesterol di usus. Ezetimibe dapat digunakan sendiri jika antihiperlidemik
lain tidak bisa ditoleransi tubuh atau dikombinasi denga golongan statin
(penghambat HMGCoa reduktase) jika golongan statin tidak dapat menurunka kadar
lipid darah sendirian.
6.
Komplikasi
Komplikasi tertinggi akut infark adalah aritmia, aritmia
yang sering memberikan komplikasi adalah ventrikel vibrilasi. Ventrikel
vibrilasi 95% meninggal sebelum sampai rumah sakit. Komplikasi lain meliputi
disfungsi ventrikel kiri/gagal jantung dan hipotensi/syok kardiogenik.
(Darmawan, 2010).
7.
Prognosis
Prognosis pada penyakit jantung
koroner tergantung dari beberapa hal yaitu:
a. Wilayah yang terkena oklusi
b. Sirkulasi kolateral
c. Durasi atau waktu oklusi
d. Oklusi total atau parsial
e. Kebutuhan oksigen miokard
Berikut prognosis pada penyakit jantung coroner:
a. 25% meninggal sebelum sampai ke
rumah sakit
b. Total mortalitas 15-30%
c. Mortalitas pada usia < 50 tahun
10-20%
d. Mortalitas usia > 50 tahun
sekitar 20%
B.
Asuhan
Keperawatan
1.
Pengkajian
a. Data subyektif :
• Lokasi nyeri (menyebar kebagian yang
mana)
• Dada terasa berat, kencang, seperti
diperas.
• Awitan dan lamanya nyeri.
• Faktor-faktor pencetus nyeri :
kegiatan, panas, dingin, stress, makanan (banyak lemak).
• Faktor-faktor yang dapat mengurangi
nyeri : istirahat, nitro-gliserin
b. Data obyektif :
Apabila nyeri angina sedang dialami pasien, maka fokus
perawat adalah tingkah laku pasien seperti, cemas, ketakutan dan memegang dada,
disamping itu, perawat juga perlu melihat melihat tanda-tanda vital dan
perubahan irama jantung.
1. Aktivitas dan istirahat
Kelemahan, kelelahan, ketidakmampuan untuk tidur (mungkin di
dapatkan Tachycardia dan dispnea pada saat beristirahat atau pada saat
beraktivitas).
2. Sirkulasi
Mempunyai riwayat IMA, Penyakit jantung koroner, CHF,
Tekanan darah tinggi, diabetes melitus. Tekanan darah mungkin normal atau
meningkat, nadi mungkin normal atau terlambatnya capilary refill time, disritmia.
Suara jantung, suara jantung tambahan S3 atau S4 mungkin mencerminkan
terjadinya kegagalan jantung/ ventrikel kehilangan kontraktilitasnya. Murmur
jika ada merupakan akibat dari insufisensi katub atau muskulus papilaris yang
tidak berfungsi. Heart rate mungkin meningkat atau menglami penurunan (tachy
atau bradi cardia). Irama jnatung mungkin ireguler atau juga normal. Edema:
Jugular vena distension, odema anasarka, crackles mungkin juga timbul dengan
gagal jantung. Warna kulit mungkin pucat baik di bibir dan di kuku.
3. Eliminasi
Bising usus mungkin meningkat atau juga normal.
4. Nutrisi
Mual, kehilangan nafsu makan, penurunan turgor kulit,
berkeringat banyak, muntah dan perubahan berat badan.
5. Neuro sensori
Nyeri kepala yang hebat, Changes mentation.
6. Kenyamanan
Timbulnya nyeri dada yang tiba-tiba yang tidak hilang dengan
beristirahat atau dengan nitrogliserin. Lokasi nyeri dada bagian depan
substerbnal yang mungkin menyebar sampai ke lengan, rahang dan wajah.
Karakteristik nyeri dapat di katakan sebagai rasa nyeri yang sangat yang pernah
di alami. Sebagai akibat nyeri tersebut mungkin di dapatkan wajah yang
menyeringai, perubahan pustur tubuh, menangis, penurunan kontak mata, perubahan
irama jantung, ECG, tekanan darah, respirasi dan warna kulit serta tingkat
kesadaran.
7. Respirasi
Dispnea dengan atau tanpa aktivitas, batuk produktif,
riwayat perokok dengan penyakit pernafasan kronis. Pada pemeriksaan mungkin di
dapatkan peningkatan respirasi, pucat atau cyanosis, suara nafas crakcles atau
wheezes atau juga vesikuler. Sputum jernih atau juga merah muda/ pink tinged.
8. Interaksi sosial
Stress, kesulitan dalam beradaptasi dengan stresor, emosi
yang tak terkontrol.
9. Pengetahuan
Riwayat di dalam keluarga ada yang menderita penyakit
jantung, diabetes, stroke, hipertensi, perokok.
10. Studi diagnostik
ECG menunjukan: adanya S-T elevasi yang merupakan tanda dri
iskemi, gelombang T inversi atau hilang yang merupakan tanda dari injuri, dan
gelombang Q yang mencerminkan adanya nekrosis. Enzym dan isoenzym pada jantung:
CPK-MB meningkat dalam 4-12 jam, dan mencapai puncak pada 24 jam. Peningkatan
SGOT dalam 6-12 jam dan mencapai puncak pada 36 jam.
11. Elektrolit
Ketidakseimbangan yang memungkinkan
terjadinya penurunan konduksi jantung dan kontraktilitas jantung seperti hipo
atau hiperkalemia.
c. Pemeriksaan penunjang
- Whole blood cell
Leukositosis mungkin timbul pada keesokan hari setelah
serangan.
- Analisa gas darah
Menunjukan terjadinya hipoksia atau proses penyakit paru
yang kronis ata akut.
- Kolesterol atau trigliserid
Mungkin mengalami peningkatan yang
mengakibatkan terjadinya arteriosklerosis.
- Chest X ray
Mungkin normal atau adanya cardiomegali, CHF, atau aneurisma
ventrikiler.
- Echocardiogram
Mungkin harus di lakukan guna menggambarkan fungsi atau
kapasitas masing-masing ruang pada jantung.
- Exercise stress test
Menunjukan kemampuan jantung beradaptasi terhadap suatu
stress/ aktivitas.
2.
Diagnosa
keperawatan
a. Intoleransi aktivitas berhubungan
ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen, adanya jaringan yang
nekrotik dan iskemi pada miokard.
b. Resiko terjadinya penurunan cardiac
output berhubungan dengan perubahan dalam rate, irama, konduksi jantung,
menurunya preload atau peningkatan SVR, miocardial infark.
c. Resiko terjadinya penurunan perfusi
jaringan berhubungan dengan penurunan tekanan darah, hipovolemia.
d. Resiko terjadinya ketidakseimbangan
cairan excess berhubungan dengan penurunan perfusi organ (renal), peningkatan
retensi natrium, penurunan plasma protein.
3.
Intervensi
- Intoleransi aktivitas berhubungan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen, adanya jaringan yang nekrotik dan iskemi pada miokard.
Tujuan: setelah di lakukan tindakan
perawatan klien menunnjukan peningkatan kemampuan dalam melakukan aktivitas
(tekanan darah, nadi, irama dalam batas normal) tidak adanya angina.
Intervensi
|
Rasional
|
|
Untuk memonitoring kondisi pasien
|
2. Anjurkan pada pasien agar lebih
banyak beristirahat terlebih dahulu.
|
Agar kerja jantung tidak berat,
sehingga jantung dapat relaksasi
|
3. Anjurkan pada pasien agar tidak
“ngeden” pada saat buang air besar.
|
Agar pembuluh darah tidak
mengalami vasokontriksi yang menyebabkan kerja jantung meningkat
|
4. Jelaskan pada pasien tentang
tahap- tahap aktivitas yang boleh dilakukan oleh pasien.
|
Agar pasien mengetahui apa saja
aktivitas yang tidak boleh dilakukan
|
2. Resiko terjadinya penurunan cardiac
output berhubungan dengan perubahan dalam rate, irama, konduksi jantung,
menurunya preload atau peningkatan SVR, miocardial infark.
Tujuan:
tidak terjadi penurunan cardiac output selama di lakukan tindakan
keperawatan.
Intervensi
|
Rasional
|
|
Takikardi dapat terjadi karena
nyeri, cemas, hipoksemia dan menurunnya curah jantung. Perubahan juga terjadi
pada TD(hipo/hiper) karena respon jantung.
|
2. Catat warna kulit dan kaji
kualitas nadi
|
Sirkulasi perifer turun jika curah
jantung turun. Membuat kulit pucat atau warna abu-abu dan menurunnya kekuatan
nadi
|
3. Auskultasi suara nafas dan Catat
perkembangan dari adanya S3 dan S4.
|
S3,S4 dan creackles terjadi karena
dekompensasi jantung atau beberapa obat(penyekat beta).
|
4. Dampingi pasien pada saat
melakukan aktivitas.
|
Penghematan energy membantu
menurunkan beban jantung
|
5. Kolaborasi dalam: pemeriksaan
serial ECG, foto thorax, pemberian obat-obatan anti disritmia.
|
Untuk hasil penunjang dan
pengobatan lebih lanjut
|
3. Resiko terjadinya penurunan perfusi jaringan
berhubungan dengan penurunan tekanan darah, hipovolemia.
Tujuan:
selama dilakukan tindakan keperawatan tidak terjadi penurunan perfusi jaringan.
Intervensi
|
Rasional
|
|
Untuk mengevaluasi kondisi pasien
|
2. Inspeksi adanya pucat, cyanosis,
kulit yang dingin dan penurunan kualitas nadi perifer.
|
Untuk mengetahui kondisi tugor
pasien
|
3. Kaji adanya tanda Homans (pain in
calf on dorsoflextion), erythema, edema.
|
Untuk mendeteksi adanya komplikasi
|
4. Kaji respirasi (irama, kedalam dan
usaha pernafasan).
|
Untuk mengevaluasi irama nafas
pasien
|
5. Kaji fungsi gastrointestinal
(bising usus, abdominal distensi, constipasi).
|
Untuk mendeteksi terjadinya
konstipasi
|
6. Monitor intake dan out put.
|
Untuk mengetahui balance cairan
dalam tubuh
|
7. Kolaborasi dalam: Pemeriksaan ABG,
BUN, Serum ceratinin dan elektrolit.
|
Untuk mendeteksi adanya kerusakan
di gnjal
|
4. Resiko terjadinya ketidakseimbangan
cairan excess berhubungan dengan penurunan perfusi organ (renal), peningkatan
retensi natrium, penurunan plasma protein.
Tujuan: tidak terjadi kelebihan cairan di dalam tubuh klien selama dalam perawatan.
Intervensi
|
Rasional
|
|
Untuk mengidentifikasi terjadinya
jugular vein distension
|
2. Ukur intake dan output (balance
cairan).
|
Untuk mengetahui balance cairan di
dalam tubuh
|
3. Kaji berat badan setiap hari.
|
Untuk mengetahui pasien kurang
gizi atau tidak
|
4. Sajikan makanan dengan diet rendah
garam
|
Agar pasien tidak mengalami hipertensi
|
5. Kolaborasi dalam pemberian
deuritika.
|
Agar cairan berlebih dalam tubuh
dapat keluar dr tubuh
|
BAB 4
PENUTUP
a.
Kesimpulan
Penyakit jantung koroner disebabkan karena terjadinya
penumpukan plak pada arteri koroner yang berlangsung lama. Plak yang menempel
pada arteri koroner lambat laun akan menyebabkan aterosklerosis.
Penatalaksanaan hal ini dapat dilakukan dengan cara non operatif dan operatif,
non operatif meliputi penggunaan obat-obatan dan perubahan gaya hidup sedangkan
operatif dengan cara angioplasty dan CABG. Obat-obatan yang biasa digunakan
untuk managemen lipid antara lain adalah golongan resin, kolestiramin,
lovastatin dsb yang mempunyai efek samping yang berbeda-beda.

terimakasih banyak, sangat membantu sekali...
BalasHapushttp://acemaxsshop.com/obat-herbal-jantung-koroner/
Terimakasih banyak, buat menambah pengetahuan saya....
BalasHapusArtikel kesehatan terbaru
BalasHapusartikelnya bermanfaat bagi banyak orang dan mudah di pahami,makasih penulis